Mengeja Hujan ☂

Jumat, 03 Februari 2012
Photobucket
Tadi pagi saya ngobrol sama Hujan. Sudah lama sekali rasanya kita tak pernah punya waktu berdua saja seperti ini. Ada begitu banyak kisah yang ingin saya tumpahkan sampai berbusa-busa pada tiap teduhnya. Seperti biasa, dia selalu menyambut hangat kehadiran saya, meski saya tahu, ia sedang tidak enak badan. Tubuhnya tampak sedikit memucat dan menggigil kedinginan. Hari ini ia bahkan tampak jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu, saat terakhir kali saya curhat padanya tentang pangeran dari negri seberang. Maka pagi itu saya tawarkan sebuah jaket hangat untuknya. Jaket kesayangan saya -yang kata dia- saya selalu tampak serasi saat mengenakannya. Ahh, Hujan...kamu selalu saja meninggalkan kenangan yang bisa buat saya senyum-senyum sendiri saat melamun. 

Tapi pagi ini dia menolak jaket yang saya angsurkan padanya, katanya, kamu akan lebih nyaman cerita sama saya kalau saya terlihat lebih kuat untuk tempatmu bersandar. Saya  diam. Saya ingin dia tahu bahwa saya pun kuat sepertinya. Tidak boleh menangis. Lalu mulailah saya bercerita padanya, seperti biasa ... tanpa mampu menatap pijar matanya. Karena saya takut akan menangis, dan terlihat cengeng untuk kesekian kalinya.

"Saya lelah. Itu saja. Maka boleh kah saya berhenti?" Kata saya sesak.

"Berhentilah. Bahkan untuk selamanya jika itu membuatmu sakit. Kamu tahu? Saya lebih terluka saat melihat kamu merasa payah." Kata Hujan perlahan. Menenangkan. Seperti biasa.

"Tapi saya tak pernah ingin menyerah. Saya hanya takut, akan berjalan sendirian saja." Kata saya lagi. 

Napas saya mulai tidak teratur. Sebisa mungkin saya hentikan tiap kristal yang melesak pada retina mata saya. Berdesakan, seolah ingin segera tumpah ruah dan muncrat menyatu pada selisik mega. Hujan terdiam. Dipalingkan wajahnya menjauh. Ia enggan menatap saya. Mungkin benci melihat betapa cengengnya saya. 

"Saya ingat, kamu pernah sendirian tanpa saya sebelum kita saling menyapa. Hari itu kamu terbangun dari tidurmu, membuka jendelamu, dan melanjutkan hidupmu dengan penuh ketegaran. Saya ingat, kamu pun pernah sekuat itu. Berlari pada batas mimpi dan impianmu, terjaga dari letihmu, dan mencoba bersisian dengan terik yang kau benci. Bukan kah begitu?" Hujan berkata serak. 

Saya tahu, saat ini mungkin tubuhnya tak lagi sekedar hangat. Melainkan sudah mulai limbung dan terasa berat karena suhu demam yang terus meninggi. Tapi dia mencoba tetap berdiri tegak di hadapan saya. Dia tau, saya akan sangat kecewa melihatnya sakit dan tak berdaya.

Hening pun merajai detik-detik yang berlalu di antara kami berdua. Seperti Hujan yang mulai lenyap, saya pun merasa patah dan takut.

Lalu kami mulai saling meniadai. Dia pergi dan mendatangkan pelangi, agar saya tak pernah merasa sendiri.

"Jika kamu kehilangan, kamu bisa mencariku. Dan akan menemukanku dari waktu ke waktu ... "

 (( Di tepi sebuah jendela; Yogyakarta, 3 Februari 2012 ☂ #saatnyaMenyemangatiDiriSendiri ))
Read More - Mengeja Hujan ☂