Untuk seseorang yang seringkali, bahkan hampir selalu menjadi inspirasiku ...
"Selamat pagiiiii ... "
Senang melihatmu masih bisa terbangun dan menatap cahaya berkilauan di luar sana pagi ini. Senang melihatmu kembali bersemangat menjalani hari. Meski kutahu, ada hal-hal yang begitu berat tanpa boleh kau ceritakan padaku dan harus menjadi rahasia-rahasia kecil yang lucu bagi hari-hari kita.
"Selamat bekerjaaa ... "
Bolehkah aku melihatmu dengan mata hati ku saja, untuk hari ini dan seterusnya?
Aku tahu, pagi ini tentu kau telah duduk manis di depan meja kerjamu yang tampak sedikit monoton bagimu. Tapi di sanalah kau akan mulai berkarya dan menumpahkan setidaknya sebagian idemu yang begitu istimewa. Dan, hey ... betapa aku selalu bangga padamu yang mampu menyimpan segala resah dengan begitu rapi. Menyimpannya dalam peti. Untuk kemudian membuangnya jauh pada hamparan stepa mati suatu saat nanti. Entah bersamaku, ataupun kau akan lakukan seorang diri saja. Lalu jemarimu akan mulai mengetikkan angka-angka yang tak pernah kumengerti. Ahh, tak seluruhnya aku tak mengerti, mungkin ada beberapa yang kupahami. Karena sekali lagi, aku selalu melihatmu dan memperhatikanku dengan mata hati ku, meski kau tak pernah tahu.
Aku tak pernah punya banyak kata jika harus bercerita tentangmu. Karena sosokmu sendiri adalah kumpulan kata yang tak pernah mampu kususun sesuai maumu.
Tapi pagi ini aku ingin bercerita padamu. Aku tak peduli jika kau akan mendengarnya sambil lalu ataupun mengacuhkanku karena bosan pada permainan kataku yang itu-itu saja. Karena akulah yang telah mengatur penaku sendiri, agar hanya kau saja yang menjadi inspirasiku.
Inspirasiku, kau tau tidak? Akhir-akhir ini aku sangat menyukai (tepatnya kembali menyukai) kisah-kisah dongeng di masa kecilku. Di mana kau dan aku belumlah saling mengenal. Di mana kau belum menjadi inspirasiku, dan aku bukanlah sosok yang ada dalam pikiranmu (ah...meski saat ini mungkin juga tidak). Kau tentu tahu tentang kisah Putri Salju, di mana sang putri harus rela tertidur dan menunggu seorang pangeran datang dari negeri jauh untuk menyelamatkan hidupnya. Lalu kisah Cinderella yang harus berlari pontang-panting saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 dan semua keajaiban yang melekat di tubuhnya pun menghilang begitu saja. Kemudian kisah Pangeran Kodok yang harus mendapatkan kecupan seorang putri demi mengembalikan wujud aslinya yang rupawan. Ataupun kisah Rapunzell si putri rambut panjang yang harus rela menjadikan rambutnya dijadikan anak tangga bagi seorang ksatria pembunuh naga. Bahkan ada juga kisah sepasang bawang (merah dan putih) yang memperebutkan keberadaan seekor ikan ajaib dalam penggorengan.
Inspirasiku, kau tau tidak? Akhir-akhir ini aku sangat menyukai (tepatnya kembali menyukai) kisah-kisah dongeng di masa kecilku. Di mana kau dan aku belumlah saling mengenal. Di mana kau belum menjadi inspirasiku, dan aku bukanlah sosok yang ada dalam pikiranmu (ah...meski saat ini mungkin juga tidak). Kau tentu tahu tentang kisah Putri Salju, di mana sang putri harus rela tertidur dan menunggu seorang pangeran datang dari negeri jauh untuk menyelamatkan hidupnya. Lalu kisah Cinderella yang harus berlari pontang-panting saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 dan semua keajaiban yang melekat di tubuhnya pun menghilang begitu saja. Kemudian kisah Pangeran Kodok yang harus mendapatkan kecupan seorang putri demi mengembalikan wujud aslinya yang rupawan. Ataupun kisah Rapunzell si putri rambut panjang yang harus rela menjadikan rambutnya dijadikan anak tangga bagi seorang ksatria pembunuh naga. Bahkan ada juga kisah sepasang bawang (merah dan putih) yang memperebutkan keberadaan seekor ikan ajaib dalam penggorengan.
Inspirasiku, bagimu yang diciptakan dan ditakdirkan tidak se-touchscreen (red. sensitif) aku mungkin hanya akan sekilas pandang dan melupakan kisah-kisah aneh itu begitu saja. Tapi aku dan beberapa perempuan lain di dunia ini mungkin akan terus mengenang dan menyimpannya rapih dalam ingatan. Meski tak harus mempunyai kehidupan sesempurna para putri dalam nageri dongeng, namun kau tentu tahu, kalimat yang sama pada hampir setiap akhir dongeng adalah impian kita semua bukan? "....and they live happily forever.." Ah, ending kalimat yang benar-benar sempurna.
Dan semalam, aku baru saja merenung dan berpikir tentang aku, kamu, dan semua kisah dongeng masa kecil kita. Tidak. Kupikir tidak semua kisah dongeng itu akan berbeda dan berjalan bersimpangan arah dengan langkah kita di kehidupan nyata. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Seperti kisah Putri Salju yang menanti cinta sejatinya dalam tidur panjang misalnya. Bedanya, di kehidupan nyata sang putri tak hanya menunggu dengan tertidur dan memejamkan mata, tetapi ia harus pergi ke sekolah, ke kampus, bahkan ke kantor untuk menemukan sendiri pangeran yang akan menyelamatkannya.
Lalu kisah tentang Cinderella yang harus susah payah mengembalikan atribut ajaibnya pada tengah malam karena terikat janji dengan ibu peri. Tentunya di dunia nyata juga sama. Hanya saja di dunia nyata, sang putri sudah lebih pandai membagi waktu sehingga tidak harus meninggalkan sebelah sepatunya di kantor untuk sekedar meninggalkan jejak. Bahkan mungkin, sang putri sudah lebih berani untuk menanyakan nomor hape dan berpura-pura harus menghubungi sang pangeran dalam urusan pekerjaan untuk lebih dari sekedar meninggalkan kesan.
Tentang kisah Pangeran Kodok pun tak jauh berbeda, hanya saja di dunia nyata ada banyak kodok yang tersebar di muka bumi. Hingga sang putri mungkin harus mengetes satu persatu kodok mana yang akan ia kecup dan ia tolong, agar bukan kodok buruk rupa yang ia dapatkan nantinya. Begitu pula dengan kisah Rapunzell dengan rambut menjuntai hingga bawah menara. Mungkin di dunia nyata si Rapunzell sudah menutup rambutnya dengan hijab, sehingga sang ksatria tak perlu memanjat rambutnya untuk mengalahkan naga, melainkan sekedar naik turun tangga untuk meminang sang putri dari dekapan sayang sang raja, ayahnya. #hahahaha
Dan terakhir tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih pun tak jauh berbeda. Hanya saja di kehidupan nyata, nama sang tokoh sudah semakin indah karena nama putri negeri dongeng tersebut telah menjadi nama bahan rempah yang lezat. Dan kini mereka tak lagi harus berebut ikan ajaib dalam penggorengan, melainkan menggoreng sendiri ikan-ikan yang telah dibeli di supermarket dan menghidangkannya dengan resep terbaik untuk sang pangeran.
Ahh...aku makin ngelantur ya...
Hai inspirasiku, aku harap kau tidak terang-terangan menertawakan imaginasiku yang sedikit berputar arah ini ya. Andai kau tau, sebenarnya khayalanku ini pun terinspirasi oleh kehadiranmu dalam hidupku. Maka kelak jika kita memang ditakdirkan hidup bersama dan bahagia selama-lamanya seperti para putri dalam dongeng, aku ingin sekali bertanya padamu sejauh mana kau mampu menuliskan tentang hidup. Bisa jadi nantinya kisah tentang hidup yang pernah kurangkai pun akan sangat jauh berbeda di masa yang akan datang.
Karena buatku saat ini,
Hidup itu tentang menunggu hujan di balik jendela dan mengukur teduhnya perlahan melalui bidikan kamera yang serba tidak profesional.
Hidup itu tentang mengerjakan rutinitas yang padat dengan muka pucat, lalu tiba-tiba tersenyum saat mengingat sebuah bayang.
Hidup itu tentang pilihan untuk bersandar di bahu seseorang meski di sampingnya terhampar sebuah kasur empuk yang tampak jauh lebih nyaman.
Hidup itu tentang berjalan pada arah yang bersimpangan dengan idealisme saat harus dihadapkan pada sebuah kenyataan.
Hidup itu tentang konspirasi Tuhan yang membiarkannya berjalan pada terjalan, tanjakan, juga dataran tanpa tahu pasti arah ranjau akan datang.
Hidup itu tentang tawa kagum pada pelangi yang muncul setelah badan menggigil kebasahan di bawah sebuah atap usang.
Hidup itu tentang berlari mengejar waktu dan terengah karena tak ada tempat yang tersisa dalam sebuah ruang.
Hidup itu tentang menikmati kesunyian di tengah keramaian.
Hidup itu tentang menghitung ruas jalan dan mengukur ketinggian untuk mencapai tujuan.
Hidup itu tentang desahan napas gundah di antara dentingan piano dan petikan gitar.
Hidup itu tentang menggila bersama kawan dan sejenak melupakan jeda dan kesedihan.
Hidup itu tentang berpijak di atas sebuah bola sakti raksasa yang berputar.
Hidup itu tentang mengingat hal-hal dimasa lalu dan kemudian menertawakannya.
Hidup itu tentang perjalanan waktu, mengulang detik, menit, jam, hari, tanggal, bulan, dan pergantian tahun.
Hidup itu tentang memilih menggenggam tangan orang lain padahal manusia diciptakan memiliki sepasang tangan yang bisa saling menggenggam tanpa kehadiran tangan lain.
Hidup itu tentang makhluk bernama manusia yang diberkahi Tuhan dengan akal pikiran namun terkadang lebih memilih untuk menjadi "hilang akal" sejenak ...
Hidup itu tentang mengerjakan rutinitas yang padat dengan muka pucat, lalu tiba-tiba tersenyum saat mengingat sebuah bayang.
Hidup itu tentang pilihan untuk bersandar di bahu seseorang meski di sampingnya terhampar sebuah kasur empuk yang tampak jauh lebih nyaman.
Hidup itu tentang berjalan pada arah yang bersimpangan dengan idealisme saat harus dihadapkan pada sebuah kenyataan.
Hidup itu tentang konspirasi Tuhan yang membiarkannya berjalan pada terjalan, tanjakan, juga dataran tanpa tahu pasti arah ranjau akan datang.
Hidup itu tentang tawa kagum pada pelangi yang muncul setelah badan menggigil kebasahan di bawah sebuah atap usang.
Hidup itu tentang berlari mengejar waktu dan terengah karena tak ada tempat yang tersisa dalam sebuah ruang.
Hidup itu tentang menikmati kesunyian di tengah keramaian.
Hidup itu tentang menghitung ruas jalan dan mengukur ketinggian untuk mencapai tujuan.
Hidup itu tentang desahan napas gundah di antara dentingan piano dan petikan gitar.
Hidup itu tentang menggila bersama kawan dan sejenak melupakan jeda dan kesedihan.
Hidup itu tentang berpijak di atas sebuah bola sakti raksasa yang berputar.
Hidup itu tentang mengingat hal-hal dimasa lalu dan kemudian menertawakannya.
Hidup itu tentang perjalanan waktu, mengulang detik, menit, jam, hari, tanggal, bulan, dan pergantian tahun.
Hidup itu tentang memilih menggenggam tangan orang lain padahal manusia diciptakan memiliki sepasang tangan yang bisa saling menggenggam tanpa kehadiran tangan lain.
Hidup itu tentang makhluk bernama manusia yang diberkahi Tuhan dengan akal pikiran namun terkadang lebih memilih untuk menjadi "hilang akal" sejenak ...
Hidup itu tentang .... aku, kamu, kita, dan persahabatan.
Ahh sudahlah, aku takut kamu akan bosan mendengar kicauanku yang tak menentu. Padahal jujur saja, pagi ini aku hanya ingin sedikit menyemangatimu dan membiarkanmu tersenyum lebih lama karena kehadiranku. Terimakasih telah menjadi inspirasi sekaligus imaginasi yang sempurna buatku.








