Jogja, 14 Januari 2013
“Bagian mana dari hujan yang kamu rindukan?” tanyamu, beberapa waktu lalu.
“Bagian kamu yang menggenggam tanganku dan berlari mencari tempat berteduh”, sahutku cepat.
Suara tawanya, menjadi sebait doa.
Hujan luruh. Awan menggelung kelabu, kembali pada peradaban langit dan peraduannya. Hembus angin menyematkan dingin yang gigil. Pada sebuah temaram mereka membisikkan kejut yang santun sekaligus kuyup. Dedaunan berlarian kacau di antara ruas-ruas aspal jalanan yang lengket oleh debu abu-abu. Seorang gadis ragu-ragu di tengah zebra cross menjadi refleksi komedi lucu bagi batas trotoar dan marka jalan. Seraut wajah letih dan menua turut melengkapi kepergian mentari bersama gerobak angkringan yang sarat muatan. Teriak knalpot dan decit jeruji kendara besi berkoalisi menjadi saksi berlalunya hari. Itu Jogja. Pada sebuah senja yang telah lampau.
Depok, 29 Maret 2013
"Biarkan semesta terus memberikanmu kejutan." Katamu. Datar. Sementara menatap ke arah jalanan lengang kota metropolitan tengah malam, bibirnya sibuk menyeduh dan menyesap secangkir hitam pahit double esspreso, lengkap dengan asapnya yang mengepul menggelitik ruas-ruas hidung. Perlahan aku meraih secangkir moccacino milikku. Menghirup baunya, dan membiarkannya menukik tajam pada setiap desahan nafas demi menghadirkan sebuah kenyamanan yang unik.
Silent Cafe. Sebuah kafe yang barangkali hanya menghendaki pengunjungnya untuk lebih banyak terdiam sambil menikmati aroma khas kopi-kopi yang tersaji. Pukul 23.30, dan barista seolah mengijinkan pengunjung bertahan dengan cangkir kopinya hingga pagi menjelang sekalipun. Petrichor yang bercampur dengan aroma racikan kopi kian menambah syahdunya malam yang ditingkahi gerimis kecil-kecil. Kaca yang mengelilingi kafe tampak basah oleh cipratan hujan, melepaskan tetasan air dengan ritme yang harmonis.
"Tuhan bila waktu dapat berputar kembali, sekali lagi untuk
mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya. Biarkan cinta
ini, hidup untuk sekali ini saja."
Sayup-sayup alunan musik slow dan galau merambah tiap sudut kafe. Menambah kecut kegamangan bagi para peneguk arabica.
Hening. Bergantian kupandangi cangkir moccacinoku yang tak lagi panas dan sepasang mata sayu milik seorang lelaki terdekatku beberapa bulan terakhir yang sibuk dengan kopinya di seberang meja. Tak lama, sebuah instrumen yang sangat kuakrabi hadir memenuhi pendengaranku. Yiruma_Kiss The Rain. Ah, kafe ini memutar sebuah lagu mesin waktu. Di mana aku bisa menghadirkan kembali ruang-ruang yang telah jauh terlewati, terlupakan, dan sengaja kuabaikan.
Mengenalnya pada siang yang terik di sebuah mall di tengah kota Jogja. Kami tak sengaja terduduk bersama pada sudut cafe mall yang dikelilingi oleh kaca dan menghadirkan pemandangan indah kota Jogja. Empat buah kursi terisi penuh. Aku, sahabat masa putih abu-abuku, sahabat kampusku, dan dia -seseorang yang tak sengaja hadir karena ulah sahabat masa putih abu-abuku-. Secangkir hazelnut coffee, avocado coffee, lemon tea, dan sepiring nasi goreng pedas Thailand berkolaborasi menjadi saksi hening yang sempat tercipta. Terdengar suara sendok yang beradu dengan piring diikuti decak kunyahan nasi gorengnya. "Ah, ini dia orang yang pernah tak sengaja menghampiri tulisan randomku dan meninggalkan jejak komentar di atasnya," gumamku tentangnya. Dan kemudian waktu berlalu. Aku pada jalanku. Dan dia pada jalannya.
Cinta. Semesta adalah konspirator terbaik saat harus berkonspirasi mengendalikan sebuah rasa bernama cinta. Lalu pada suatu pagi, dia berjanji pada ayahku untuk datang tepat pukul 10.00. Semesta terus menjalankan perannya. Ia memberi jeda pada separuh mimpi, mengada spasi bagi mimpi lain yang lebih usang, mengobrak-abrik lingkaran terka, dan ia mempertemukan kami pada sebuah jalan yang tampak sama. Meski kami berbeda tentunya.
Lalu kini dia ada untukku. Ikut menjadi bagian dari mimpi-mimpiku. Tak
peduli seberapa banyak energi yang pernah kucapai sendirian. Kehadirannya menjadi sebuah kekuatan lain untuk tetap melangkah dan berjalan. Meski terkadang harus berjalan sedemikian pelan, bukan berati berhenti. Kita membuka selapis-demi
selapis diri seiring waktu dan kejadian, yang juga dibungkus kebersamaan. Bersamanya, kemudian aku menjadi diriku sendiri. Aku telah memilihnya bukan karena memilih sebuah
jalan yang mudah, karena jalan apapun memang pada akhirnya ingin kulewati bersamanya. Entah dalam kuatnya,
rapuhku, jatuhnya, tegarku, hingga kemudian merasa bahwa tak perlu lagi ada gentar menghadapi setiap jalan asal
kita masih bersisih-an.
Seperti ketika suatu saat, dia bilang dia sangat suka nasi
goreng, dan aku tak begitu suka, tapi aku tetap ingin memasak untuknya dan
menemaninya makan. Lalu di lain waktu aku ingin menikmati kopiku dengan cara menghabiskannya terlalu cepat karena takut tak lagi hangat, dan dia tetap bertahan di sampingku sambil menyeduh kopinya pelan-pelan dan menatapku agar tetap merasa hangat.
Dunia kita yang mungkin berbeda, tapi cinta kita
sama. (Siwi)
"Nik..." suaranya pelan menyadarkan lamunanku.
"Mas, alangkah lucunya. Bagaimana bila pada suatu hari di masa yang lalu kamu adalah seorang penulis dongeng, dan sekarang kamu tengah menjadi tokoh utama dalam kisah dongengmu sendiri? Bahkan kemudian kehidupan memaksamu untuk melanjutkan kisah tersebut hingga usai," kataku tiba-tiba.
"Biar saja. Kita lihat apa yang akan terjadi. Biarkan saja semesta terus memberimu kejutan, dan merespon apa yang tengah kamu pancarkan. Berjalan. Berlari. Dan suatu hari nanti kita harus terhenti dengan
napas yang payah. Lalu terdiam. Biar saja," katanya sambil tersenyum dan mengusap kepalaku perlahan.
Malam kian usang, dan dia pun beranjak perlahan sembari menggamit lenganku. Pergi meninggalkan cangkir-cangkir kopi tandas berserakan. Dia berjalan, sambil sesekali menoleh ke arahku. Memastikan. "Ah, apalagi yang perlu kau pastikan? Bukankah aku tetap manis seperti biasa," gumamku dalam hati sambil tertawa tertahan. I wanna grow old with u.
“Karena
hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”
(Perahu
Kertas 2)
![]() | ||
| Emm, ini pertama kalinya menulis tentangmu. Agak grogi.. :P* |
*Untuk sahabat SMAku, Shofi. Terimakasih telah mempertemukan kami. Doaku selalu buatmu.
Untuk suamiku, Mas Dudy. ini hadiah kedua setelah adidas, *ups. Ternyata kamu lebih sulit dituliskan dari yang kukira. Mungkin karena kamu sendiri merupakan kumpulan tulisan yang belum usai kubaca ya...eaaa... :P (Ciyus, ini gombal..hahaha)
Untuk suamiku, Mas Dudy. ini hadiah kedua setelah adidas, *ups. Ternyata kamu lebih sulit dituliskan dari yang kukira. Mungkin karena kamu sendiri merupakan kumpulan tulisan yang belum usai kubaca ya...eaaa... :P (Ciyus, ini gombal..hahaha)

















