Catatan Kecil (Lelaki Pemetik Hujan)

Senin, 01 April 2013
Jogja, 14 Januari 2013
 
“Bagian mana dari hujan yang kamu rindukan?” tanyamu, beberapa waktu lalu.
“Bagian kamu yang menggenggam tanganku dan berlari mencari tempat berteduh”, sahutku cepat.
Suara tawanya, menjadi sebait doa.

Hujan luruh. Awan menggelung kelabu, kembali pada peradaban langit dan peraduannya. Hembus angin menyematkan dingin yang gigil. Pada sebuah temaram mereka membisikkan kejut yang santun sekaligus kuyup. Dedaunan berlarian kacau di antara ruas-ruas aspal jalanan yang lengket oleh debu abu-abu. Seorang gadis ragu-ragu di tengah zebra cross menjadi refleksi komedi lucu bagi batas trotoar dan marka jalan. Seraut wajah letih dan menua turut melengkapi kepergian mentari bersama gerobak angkringan yang sarat muatan. Teriak knalpot dan decit jeruji kendara besi berkoalisi menjadi saksi berlalunya hari. Itu Jogja. Pada sebuah senja yang telah lampau.

Depok, 29 Maret 2013

"Biarkan semesta terus memberikanmu kejutan." Katamu. Datar. Sementara menatap ke arah jalanan lengang kota metropolitan tengah malam, bibirnya sibuk menyeduh dan menyesap secangkir hitam pahit double esspreso, lengkap dengan asapnya yang mengepul menggelitik ruas-ruas hidung. Perlahan aku meraih secangkir moccacino milikku. Menghirup baunya, dan membiarkannya menukik tajam pada setiap desahan nafas demi menghadirkan sebuah kenyamanan yang unik.

Silent Cafe. Sebuah kafe yang barangkali hanya menghendaki pengunjungnya untuk lebih banyak terdiam sambil menikmati aroma khas kopi-kopi yang tersaji. Pukul 23.30, dan barista seolah mengijinkan pengunjung bertahan dengan cangkir kopinya hingga pagi menjelang sekalipun. Petrichor yang bercampur dengan aroma racikan kopi kian menambah syahdunya malam yang ditingkahi gerimis kecil-kecil. Kaca yang mengelilingi kafe tampak basah oleh cipratan hujan, melepaskan tetasan air dengan ritme yang harmonis.

"Tuhan bila waktu dapat berputar kembali, sekali lagi untuk mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya. Biarkan cinta ini, hidup untuk sekali ini saja."

Sayup-sayup alunan musik slow dan galau merambah tiap sudut kafe. Menambah kecut kegamangan bagi para peneguk arabica.

Hening. Bergantian kupandangi cangkir moccacinoku yang tak lagi panas dan sepasang mata sayu milik seorang lelaki terdekatku beberapa bulan terakhir yang sibuk dengan kopinya di seberang meja. Tak lama, sebuah instrumen yang sangat kuakrabi hadir memenuhi pendengaranku. Yiruma_Kiss The Rain. Ah, kafe ini memutar sebuah lagu mesin waktu. Di mana aku bisa menghadirkan kembali ruang-ruang yang telah jauh terlewati, terlupakan, dan sengaja kuabaikan.

Mengenalnya pada siang yang terik di sebuah mall di tengah kota Jogja. Kami tak sengaja terduduk bersama pada sudut cafe mall yang dikelilingi oleh kaca dan menghadirkan pemandangan indah kota Jogja. Empat buah kursi terisi penuh. Aku, sahabat masa putih abu-abuku, sahabat kampusku, dan dia -seseorang yang tak sengaja hadir karena ulah sahabat masa putih abu-abuku-. Secangkir hazelnut coffee, avocado coffee, lemon tea, dan sepiring nasi goreng pedas Thailand berkolaborasi menjadi saksi hening yang sempat tercipta. Terdengar suara sendok yang beradu dengan piring diikuti decak kunyahan nasi gorengnya. "Ah, ini dia orang yang pernah tak sengaja menghampiri tulisan randomku dan meninggalkan jejak komentar di atasnya," gumamku tentangnya. Dan kemudian waktu berlalu. Aku pada jalanku. Dan dia pada jalannya.

Cinta. Semesta adalah konspirator terbaik saat harus berkonspirasi mengendalikan sebuah rasa bernama cinta. Lalu pada suatu pagi, dia berjanji pada ayahku untuk datang tepat pukul 10.00. Semesta terus menjalankan perannya. Ia memberi jeda pada separuh mimpi, mengada spasi bagi mimpi lain yang lebih usang, mengobrak-abrik lingkaran terka, dan ia mempertemukan kami pada sebuah jalan yang tampak sama. Meski kami berbeda tentunya.

Lalu kini dia ada untukku. Ikut menjadi bagian dari mimpi-mimpiku. Tak peduli seberapa banyak energi yang pernah kucapai sendirian. Kehadirannya menjadi sebuah kekuatan lain untuk tetap melangkah dan berjalan. Meski terkadang harus berjalan sedemikian pelan, bukan berati berhenti. Kita membuka selapis-demi selapis diri seiring waktu dan kejadian, yang juga dibungkus kebersamaan. Bersamanya, kemudian aku menjadi diriku sendiri. Aku telah memilihnya bukan karena memilih sebuah jalan yang mudah, karena jalan apapun memang pada akhirnya ingin kulewati bersamanya. Entah dalam kuatnya, rapuhku, jatuhnya, tegarku, hingga kemudian merasa bahwa tak perlu lagi ada gentar menghadapi setiap jalan asal kita masih bersisih-an.

Seperti ketika suatu saat, dia bilang dia sangat suka nasi goreng, dan aku tak begitu suka, tapi aku tetap ingin memasak untuknya dan menemaninya makan. Lalu di lain waktu aku ingin menikmati kopiku dengan cara menghabiskannya terlalu cepat karena takut tak lagi hangat, dan dia tetap bertahan di sampingku sambil menyeduh kopinya pelan-pelan dan menatapku agar tetap merasa hangat.  
Dunia kita yang mungkin berbeda, tapi cinta kita sama. (Siwi)

"Nik..." suaranya pelan menyadarkan lamunanku. 
"Mas, alangkah lucunya. Bagaimana bila pada suatu hari di masa yang lalu kamu adalah seorang penulis dongeng, dan sekarang kamu tengah menjadi tokoh utama dalam kisah dongengmu sendiri? Bahkan kemudian kehidupan memaksamu untuk melanjutkan kisah tersebut hingga usai," kataku tiba-tiba. 
"Biar saja. Kita lihat apa yang akan terjadi. Biarkan saja semesta terus memberimu kejutan, dan merespon apa yang tengah kamu pancarkan. Berjalan. Berlari. Dan suatu hari nanti kita harus terhenti dengan napas yang payah. Lalu terdiam. Biar saja," katanya sambil tersenyum dan mengusap kepalaku perlahan.

Malam kian usang, dan dia pun beranjak perlahan sembari menggamit lenganku. Pergi meninggalkan cangkir-cangkir kopi tandas berserakan. Dia berjalan, sambil sesekali menoleh ke arahku. Memastikan. "Ah, apalagi yang perlu kau pastikan? Bukankah aku tetap manis seperti biasa," gumamku dalam hati sambil tertawa tertahan. I wanna grow old with u.

“Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”  
(Perahu Kertas 2)

 photo me600x453.gif
Emm, ini pertama kalinya menulis tentangmu. Agak grogi.. :P*





*Untuk sahabat SMAku, Shofi. Terimakasih telah mempertemukan kami. Doaku selalu buatmu.
Untuk suamiku, Mas Dudy. ini hadiah kedua setelah adidas, *ups. Ternyata kamu lebih sulit dituliskan dari yang kukira. Mungkin karena kamu sendiri merupakan kumpulan tulisan yang belum usai kubaca ya...eaaa... :P (Ciyus, ini gombal..hahaha)
Read More - Catatan Kecil (Lelaki Pemetik Hujan)

Untitled (✿◠ ‿ ◠)

Rabu, 23 Mei 2012
Terkadang aku terlalu takut untuk terus berjalan. Menapaki langkah-langkah baru, dan meninggalkan jejak-jejak rekat berdebu. Tanpa tahu kapan aku mampu menoleh lagi ke belakang. Sekedar meredakan butiran pasir yang terhempas dan mengabur, atau merapihkan setapak yang terserak di ujung perjalanan. Aku takut.

|| Rindu datang di jam 5 kurang.
Ketika arsip kantor telah terkemas rapi, 
dan peluh menginginkan rebah untuk melepas letih pada sebuah senja.

Rindu datang dalam diam.
Di antara meja yang sedang dirapikan,
tas yang diselempang, dan kaki yang melangkah perlahan.

Rindu datang mengingatkan
Bahwa diantara setumpuk deadline
kamu tetap menjadi bagian dari perasaan.  

Halo, ini aku. 

Sekarang sedang mampir di cubicle-mu.
Menatap layar pada bait-baitmu.
Mencoba merasakan apa yang tengah kau rasakan,
menangkap jejak jarimu yang sempat pernah ada disitu. 

Hai, ini aku.
Hari ini aku sedang rindu. 

Cuma bisa disampaikan dengan cara itu.
||
 
Sebenarnya kita sama-sama saling mengetahui, hanya saja kita sama-sama saling menunggu. Begitu kah?
Aku takut. Suatu hari nanti waktu akan menelan spasi dan melebarkannya. Aku takut. Suatu hari nanti doa-doa itu tak lagi beterbangan di langit pada sayap-sayap malaikat yang pernah kita pinjam di ujung senja. Aku takut. Kita terlalu nyaman berjalan bersisian, hingga terlupa...bahwa tangan kita tak lagi bergandengan. Aku takut.

"Kalau suatu hari nanti antum harus menikah, jangan pernah berubah sikap ya... ;)) "
#broadcast messages...hahaha...saling mendoakan ya...

Photobucket 

Dedicated for: My Sophie, My Phipi, My Osis, and My Bloofers ...
Read More - Untitled (✿◠ ‿ ◠)

Sebuah Lagu Untuk Persahabatan ...

Senin, 26 Maret 2012
Jogja of Friendship ...

"Persahabatan itu seperti apa?"

"Haruskah ada kecemburuan dan kegalauan di dalamnya?"

 (hening)

"Entah."

"Buatku, terkadang bukan karena kita acuh maka persahabatan itu menjadi retak. Karena pada kenyataannya, aku masi tetap di sini. Masih menjadi seseorang yang sama seperti yang dulu mereka kenal. Hanya saja, merekalah yang perlahan menjauh. Maybe I'm getting older and older, but for me...friendship's never aging."

"Sama. Aku pun begitu."

"Persahabatan adalah rasa nyaman. Di mana aku melukis pelangi, dan kau menyempurnakan warnanya. Di mana aku mengeja hujan, dan kau menyatukannya. Di mana aku meraba dalam gelap, dan kau meneranginya. Di mana kau menyihir awan, dan aku menjadi keajaibannya. Di mana kau menjejak mega, dan aku meneguhkannya. Di mana kau mengikat hening, dan aku membunuhnya perlahan."


Kusentuh hidungku dengan jari-jari yang hampir mati rasa, dingin. Telapak tanganku sedingin pecahan es batu yang biasa menari-nari di dalam segelas fluida. Mataku tampak sedikit nanar menatap tiap sudut kota yang paling kucintai. Ahh, baru kali ini aku merasa tak nyaman, melupakan hujan, bahkan sangat ingin menangis sekaligus menahannya dalam-dalam.

Pengamen jalanan mulai beraksi, menyuguhkan lagu-lagu menyayat hati. Tangannya sigap menyodorkan kemasan plastik bekas kepada para penumpang sebagai tempat untuk menerima receh-receh, krincing, dan lembaran usang para penikmat jalan raya. Sendu. Merdu. Buatku.

Akan sangat mudah untukku saat harus menangis dalam sunyi. Namun terkadang persahabatan akan selalu menguatkanku, membuatku mampu berdiri tegak lebih lama, dan mendorongku terus berjalan meski perih dan tak ingin.  Mereka menjagaku tetap berada dalam keramain saat aku hanya ingin sebuah keheningan dan keputusasaan.

Rasanya sulit membayangkan, bahwa suatu saat aku pun harus menuliskan tentang sebuah kehilangan. Sebuah jarak dalam lintasan ruang dan waktu tak pernah menjadi beban bagi tiap persahabatan dan genggaman tangan. Membunuh tiap-tiap penat dan kerinduan yang tak pernah mampu kuberi nama dalam sebuah jeda. Ada tawa yang tak pernah mampu kau mengerti bahasanya, ada kisah-kisah yang tak pernah kau tau indahnya, ada sesak yang terhempas dan enyah saat bersamanya. Menembus tiap batas dan kecanggungan. Melawan tiap kesepian yang terasa memuakkan. Lalu seperti sebuah garis, yang kemudian menghilang ke belakang. Menyematkan tiap-tiap kenangan pada nama-nama yang tersimpan hangat. Kami. Ah, kau takkan pernah mengerti. Betapa nyamannya bersandar pada sosok-sosok yang kau sayangi meski tak kau jumpai. Kami. Nama-nama yang terus kurajut, kuletupkan, dan kukunci perlahan pada sebuah ruang yang....ahh, sekali lagi kau takkan pernah mengerti.

Tersentak. Kemudian sekali lagi aku tersadar. Bahwa aku memang telah benar-benar kehilangan. Dan sekali lagi, aku meragu. Selalu. Persahabatan selalu begitu. Bahkan ketika otakku tak mampu merangkai kata apapun, saat tubuhku terasa tak lagi ingin menapaki bayang-bayang tanah yang menggurat, dan saat debarku menjadi kepayahan yang tak kumengerti...persahabatan menjadi sebuah lagu hangat yang membuatku kembali tersadar. Membangunkanku dari mimpi buruk yang menyesakkan. Menguatkan. Memberikan harapan. Bahkan meski ia pun lelah dalam kegamangan.

Terimakasih atas persahabatan yang hangat malam itu. Kalian tau? Menemukan senyuman hangat yang menenangkan dalam setiap kehilangan, adalah seperti merasakan kehadiran tangan Tuhan pada setiap rengkuhan....

Dedicated sangat special to : 

  • Seseorang dengan keletihan yang sangat namun rela menyibak tiap kerumunan untuk kembali mencari dan terus menerus memberikan sebuah senyuman hangat sekaligus kekuatan, bahkan kemudian meminjamkan sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk menekan tiap ketakutan dan kehilangan yang kurasakan. 
  • Seseorang yang menggenggam tanganku erat pada sebuah kendaraan roda dua yang melaju lambat. Menguatkanku dan mengatakan, bahwa semua akan baik-baik saja. Menyadarkanku tanpa sedikitpun melukaiku.
  • Mereka yang terus menyemangatiku, mengantarkanku pada arah jalan pulang yang tak lagi tersesat. Menegakkanku dan membantuku tetap tersenyum dalam banyak waktu.
  • Seseorang yang ikut dalam kepanikan meski ia sendiri pun tak mengerti benar tentang apa yang terjadi. Bahkan membantuku menjelaskan, hingga aku tak jadi lumat oleh sebuah amarah.
  • Seseorang yang teramat sangat spesial dalam kisah persahabatanku, seseorang yang selalu ada dalam tiap desahan persahabatan di ruang itu. Menjadi tempat bagi tiap kisah dalam perjalananku. Menjadi tempat sampah bagi tiap ketakutanku. 


Akan ada segudang kerinduan untuk tiap kenangan yang tertinggal di sebuah sudut kemacetan kota. Maafkan atas jalan-jalan yang tak pernah kuhapal dengan sempurna. Semoga kelak tak akan ada kehilangan lagi saat kita ditakdirkan bertemu kembali... :D
"Betapa persahabatan itu benar-benar tanpa syarat...
ketika melihatnya terbatas...
tapi aku tau cintanya luas dan bebas..." @nicksalsabiila

Read More - Sebuah Lagu Untuk Persahabatan ...

Mengeja Hujan ☂

Jumat, 03 Februari 2012
Photobucket
Tadi pagi saya ngobrol sama Hujan. Sudah lama sekali rasanya kita tak pernah punya waktu berdua saja seperti ini. Ada begitu banyak kisah yang ingin saya tumpahkan sampai berbusa-busa pada tiap teduhnya. Seperti biasa, dia selalu menyambut hangat kehadiran saya, meski saya tahu, ia sedang tidak enak badan. Tubuhnya tampak sedikit memucat dan menggigil kedinginan. Hari ini ia bahkan tampak jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu, saat terakhir kali saya curhat padanya tentang pangeran dari negri seberang. Maka pagi itu saya tawarkan sebuah jaket hangat untuknya. Jaket kesayangan saya -yang kata dia- saya selalu tampak serasi saat mengenakannya. Ahh, Hujan...kamu selalu saja meninggalkan kenangan yang bisa buat saya senyum-senyum sendiri saat melamun. 

Tapi pagi ini dia menolak jaket yang saya angsurkan padanya, katanya, kamu akan lebih nyaman cerita sama saya kalau saya terlihat lebih kuat untuk tempatmu bersandar. Saya  diam. Saya ingin dia tahu bahwa saya pun kuat sepertinya. Tidak boleh menangis. Lalu mulailah saya bercerita padanya, seperti biasa ... tanpa mampu menatap pijar matanya. Karena saya takut akan menangis, dan terlihat cengeng untuk kesekian kalinya.

"Saya lelah. Itu saja. Maka boleh kah saya berhenti?" Kata saya sesak.

"Berhentilah. Bahkan untuk selamanya jika itu membuatmu sakit. Kamu tahu? Saya lebih terluka saat melihat kamu merasa payah." Kata Hujan perlahan. Menenangkan. Seperti biasa.

"Tapi saya tak pernah ingin menyerah. Saya hanya takut, akan berjalan sendirian saja." Kata saya lagi. 

Napas saya mulai tidak teratur. Sebisa mungkin saya hentikan tiap kristal yang melesak pada retina mata saya. Berdesakan, seolah ingin segera tumpah ruah dan muncrat menyatu pada selisik mega. Hujan terdiam. Dipalingkan wajahnya menjauh. Ia enggan menatap saya. Mungkin benci melihat betapa cengengnya saya. 

"Saya ingat, kamu pernah sendirian tanpa saya sebelum kita saling menyapa. Hari itu kamu terbangun dari tidurmu, membuka jendelamu, dan melanjutkan hidupmu dengan penuh ketegaran. Saya ingat, kamu pun pernah sekuat itu. Berlari pada batas mimpi dan impianmu, terjaga dari letihmu, dan mencoba bersisian dengan terik yang kau benci. Bukan kah begitu?" Hujan berkata serak. 

Saya tahu, saat ini mungkin tubuhnya tak lagi sekedar hangat. Melainkan sudah mulai limbung dan terasa berat karena suhu demam yang terus meninggi. Tapi dia mencoba tetap berdiri tegak di hadapan saya. Dia tau, saya akan sangat kecewa melihatnya sakit dan tak berdaya.

Hening pun merajai detik-detik yang berlalu di antara kami berdua. Seperti Hujan yang mulai lenyap, saya pun merasa patah dan takut.

Lalu kami mulai saling meniadai. Dia pergi dan mendatangkan pelangi, agar saya tak pernah merasa sendiri.

"Jika kamu kehilangan, kamu bisa mencariku. Dan akan menemukanku dari waktu ke waktu ... "

 (( Di tepi sebuah jendela; Yogyakarta, 3 Februari 2012 ☂ #saatnyaMenyemangatiDiriSendiri ))
Read More - Mengeja Hujan ☂

[Masih] Tentang Cinta Dalam Diam (˘ ˘З)~♬

Kamis, 12 Januari 2012
Untuk seseorang yang seringkali, bahkan hampir selalu menjadi inspirasiku ... 

"Selamat pagiiiii ... "
Senang melihatmu masih bisa terbangun dan menatap cahaya berkilauan di luar sana pagi ini. Senang melihatmu kembali bersemangat menjalani hari. Meski kutahu, ada hal-hal yang begitu berat tanpa boleh kau ceritakan padaku dan harus menjadi rahasia-rahasia kecil yang lucu bagi hari-hari kita.

"Selamat bekerjaaa ... "
Bolehkah aku melihatmu dengan mata hati ku saja, untuk hari ini dan seterusnya?
Aku tahu, pagi ini tentu kau telah duduk manis di depan meja kerjamu yang tampak sedikit monoton bagimu. Tapi di sanalah kau akan mulai berkarya dan menumpahkan setidaknya sebagian idemu yang begitu istimewa. Dan, hey ... betapa aku selalu bangga padamu yang mampu menyimpan segala resah dengan begitu rapi. Menyimpannya dalam peti. Untuk kemudian membuangnya jauh pada hamparan stepa mati suatu saat nanti. Entah bersamaku, ataupun kau akan lakukan seorang diri saja. Lalu jemarimu akan mulai mengetikkan angka-angka yang tak pernah kumengerti. Ahh, tak seluruhnya aku tak mengerti, mungkin ada beberapa yang kupahami. Karena sekali lagi, aku selalu melihatmu dan memperhatikanku dengan mata hati ku, meski kau tak pernah tahu.
Aku tak pernah punya banyak kata jika harus bercerita tentangmu. Karena sosokmu sendiri adalah kumpulan kata yang tak pernah mampu kususun sesuai maumu. 

Tapi pagi ini aku ingin bercerita padamu. Aku tak peduli jika kau akan mendengarnya sambil lalu ataupun mengacuhkanku karena bosan pada permainan kataku yang itu-itu saja. Karena akulah yang telah mengatur penaku sendiri, agar hanya kau saja yang menjadi inspirasiku.  

Inspirasiku, kau tau tidak? Akhir-akhir ini aku sangat menyukai (tepatnya kembali menyukai) kisah-kisah dongeng di masa kecilku. Di mana kau dan aku belumlah saling mengenal. Di mana kau belum menjadi inspirasiku, dan aku bukanlah sosok yang ada dalam pikiranmu (ah...meski saat ini mungkin juga tidak). Kau tentu tahu tentang kisah Putri Salju, di mana sang putri harus rela tertidur dan menunggu seorang pangeran datang dari negeri jauh untuk menyelamatkan hidupnya. Lalu kisah Cinderella yang harus berlari pontang-panting saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 dan semua keajaiban yang melekat di tubuhnya pun menghilang begitu saja. Kemudian kisah Pangeran Kodok yang harus mendapatkan kecupan seorang putri demi mengembalikan wujud aslinya yang rupawan. Ataupun kisah Rapunzell si putri rambut panjang yang harus rela menjadikan rambutnya dijadikan anak  tangga bagi seorang ksatria pembunuh naga. Bahkan ada juga kisah sepasang bawang (merah dan putih) yang memperebutkan keberadaan seekor ikan ajaib dalam penggorengan.

Inspirasiku, bagimu yang diciptakan dan ditakdirkan tidak se-touchscreen (red. sensitif) aku mungkin hanya akan sekilas pandang dan melupakan kisah-kisah aneh itu begitu saja. Tapi aku dan beberapa perempuan lain di dunia ini mungkin akan terus mengenang dan menyimpannya rapih dalam ingatan. Meski tak harus mempunyai kehidupan sesempurna para putri dalam nageri dongeng, namun kau tentu tahu, kalimat yang sama pada hampir setiap akhir dongeng adalah impian kita semua bukan? "....and they live happily forever.." Ah, ending kalimat yang benar-benar sempurna.

Photobucket
Dan semalam, aku baru saja merenung dan berpikir tentang aku, kamu, dan semua kisah dongeng masa kecil kita. Tidak. Kupikir tidak semua kisah dongeng itu akan berbeda dan berjalan bersimpangan arah dengan langkah kita di kehidupan nyata. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Seperti kisah Putri Salju yang menanti cinta sejatinya dalam tidur panjang misalnya. Bedanya, di kehidupan nyata sang putri tak hanya menunggu dengan tertidur dan memejamkan mata, tetapi ia harus pergi ke sekolah, ke kampus, bahkan ke kantor untuk menemukan sendiri pangeran yang akan menyelamatkannya.

Lalu kisah tentang Cinderella yang harus susah payah mengembalikan atribut ajaibnya pada tengah malam karena terikat janji dengan ibu peri. Tentunya di dunia nyata juga sama. Hanya saja di dunia nyata, sang putri sudah lebih pandai membagi waktu sehingga tidak harus meninggalkan sebelah sepatunya di kantor untuk sekedar meninggalkan jejak. Bahkan mungkin, sang putri sudah lebih berani untuk menanyakan nomor hape dan berpura-pura harus menghubungi sang pangeran dalam urusan pekerjaan untuk lebih dari sekedar meninggalkan kesan.

Tentang kisah Pangeran Kodok pun tak jauh berbeda, hanya saja di dunia nyata ada banyak kodok yang tersebar di muka bumi. Hingga sang putri mungkin harus mengetes satu persatu kodok mana yang akan ia kecup dan ia tolong, agar bukan kodok buruk rupa yang ia dapatkan nantinya. Begitu pula dengan kisah Rapunzell dengan rambut menjuntai hingga bawah menara. Mungkin di dunia nyata si Rapunzell sudah menutup rambutnya dengan hijab, sehingga sang ksatria tak perlu memanjat rambutnya untuk mengalahkan naga, melainkan sekedar naik turun tangga untuk meminang sang putri dari dekapan sayang sang raja, ayahnya. #hahahaha

Dan terakhir tentang kisah Bawang Merah dan Bawang Putih pun tak jauh berbeda. Hanya saja di kehidupan nyata, nama sang tokoh sudah semakin indah karena nama putri negeri dongeng tersebut telah menjadi nama bahan rempah yang lezat. Dan kini mereka tak lagi harus berebut ikan ajaib dalam penggorengan, melainkan menggoreng sendiri ikan-ikan yang telah dibeli di supermarket dan menghidangkannya dengan resep terbaik untuk sang pangeran.

Ahh...aku makin ngelantur ya...
Hai inspirasiku, aku harap kau tidak terang-terangan menertawakan imaginasiku yang sedikit berputar arah ini ya. Andai kau tau, sebenarnya khayalanku ini pun terinspirasi oleh kehadiranmu dalam hidupku. Maka kelak jika kita memang ditakdirkan hidup bersama dan bahagia selama-lamanya seperti para putri dalam dongeng, aku ingin sekali bertanya padamu sejauh mana kau mampu menuliskan tentang hidup. Bisa jadi nantinya kisah tentang hidup yang pernah kurangkai pun akan sangat jauh berbeda di masa yang akan datang.

Karena buatku saat ini, 
Hidup itu tentang menunggu hujan di balik jendela dan mengukur teduhnya perlahan melalui bidikan kamera yang serba tidak profesional. 
Hidup itu tentang mengerjakan rutinitas yang padat dengan muka pucat, lalu tiba-tiba tersenyum saat mengingat sebuah bayang. 
Hidup itu tentang pilihan untuk bersandar di bahu  seseorang meski di sampingnya terhampar sebuah kasur empuk yang tampak jauh lebih nyaman.
Hidup itu tentang berjalan pada arah yang bersimpangan dengan idealisme saat harus dihadapkan pada sebuah kenyataan. 
Hidup itu tentang konspirasi Tuhan yang membiarkannya berjalan pada terjalan, tanjakan, juga dataran tanpa tahu pasti arah ranjau akan datang. 
Hidup itu tentang tawa kagum pada pelangi yang muncul setelah badan menggigil kebasahan di bawah sebuah atap usang.
Hidup itu tentang berlari mengejar waktu dan terengah karena tak ada tempat yang tersisa dalam sebuah ruang. 
Hidup itu tentang menikmati kesunyian di tengah keramaian. 
Hidup itu tentang menghitung ruas jalan dan mengukur ketinggian untuk mencapai tujuan. 
Hidup itu tentang desahan napas gundah di antara dentingan piano dan petikan gitar. 
Hidup itu tentang menggila bersama kawan dan sejenak melupakan jeda dan kesedihan.  
Hidup itu tentang berpijak di atas sebuah bola sakti raksasa yang berputar.
Hidup itu tentang mengingat hal-hal dimasa lalu dan kemudian menertawakannya.
Hidup itu tentang perjalanan waktu, mengulang detik, menit, jam, hari, tanggal, bulan, dan pergantian tahun.  
Hidup itu tentang memilih menggenggam tangan orang lain padahal manusia diciptakan memiliki sepasang tangan yang bisa saling menggenggam tanpa kehadiran tangan lain. 
Hidup itu tentang makhluk bernama manusia yang diberkahi Tuhan dengan akal pikiran namun terkadang lebih memilih untuk menjadi "hilang akal" sejenak ... 
Hidup itu tentang .... aku, kamu, kita, dan persahabatan.

Ahh sudahlah, aku takut kamu akan bosan mendengar kicauanku yang tak menentu. Padahal jujur saja, pagi ini aku hanya ingin sedikit menyemangatimu dan membiarkanmu tersenyum lebih lama karena kehadiranku. Terimakasih telah menjadi inspirasi sekaligus imaginasi yang sempurna buatku.

((Seringkali ketika kita hilang harapan, kita selalu berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Padahal saat itu Tuhan sedang tersenyum menyaksikan kepanikan kita, seraya berkata, "Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir dari segalanya."))
milkysmilemilkysmile 
hahahaha ... aku nulis apa sih ya?? jadi bingung sendiri ... hahaha .. kenapa ya? ada yang aneh dan meloncat-loncat dalam batinku tentangmu ... :P *

Read More - [Masih] Tentang Cinta Dalam Diam (˘ ˘З)~♬

There's Never a Perfect Life for a Princess (╥﹏╥)

Minggu, 01 Januari 2012
"Cakrawala. Seperti layar yang memutar adegan demi adegan. Cinta kita. Sandiwara kita. Pelukan-pelukan erat, hingga tangan yang melepas genggaman begitu berat.
Dulu. Dulu sekali. Ketika kau adalah hujan, aku begitu ingin menjadi hutan. Hutan yang menampung semesta hujan. Hingga di suatu hari yang sangat ingin dilupakan, hujan menjelma selangit bah. Menghanyutkan kota. Memporak-porandakan hutan.
Kita saling melawan arah jalan. Melewati jalan-jalan baru. Menuju rumah baru. Sambil ragu berharap ada lagi sebuah pertemuan. Laut menengadahkan tangannya. Seakan siap menerima apa saja yang hendak jatuh dari langit.
Kita tanggalkan siapa diri kita sebenarnya. Malam ini. Masa lalu dan masa sekarang, tak benar-benar berbeda buat kita." #SihirHujan

(( Kadang, kita mencintai seseorang begitu rupa ... hingga tak menyisakan sedikitpun ruang bagi orang lain, bahkan untuk sekedar bertanya "Inikah kebahagiaan yang sebenarnya?" ))

Photobucket

The little story, about a little princess ... ( ื▿ ืʃƪ)

Setiap orang ingin mempunyai sebuah kerajaan kecil dalam hidupnya. Mempunyai singgasananya sendiri, tongkat ajaib yang bersinar-sinar cahaya, seekor kuda putih bersayap malaikat, gaun yang indah, mahkota cantik yang merekah mewah, dan seseorang yang mau menjadi bagian terpenting dalam kerajaannya untuk kemudian menempati singgasana terindah di samping tahtanya.

Hidup sang putri akan terasa begitu sempurna. Gemerlap putri impian bagi tiap gadis pada masanya telah menjadi hal yang lumrah bagi takdirnya. Lalu suatu ketika sang waktu akan mulai menjalankan perannya dengan memberikan kutukan-kutukan kecil bagi sebuah kerajaan yang nampak begitu sempurna. Akan ada air mata di sana, akan ada kesedihan menyapa, dan akan ada masa lalu yang tak pernah mampu terlupa.

Sang waktu mengajarkan putri tentang rasa resah, rasa gundah, juga sedikit sesak di dada. Istana yang megah, pengawal yang berbaris tabah, dan harta yang berlimpah kemudian berbisik lirih. Mencoba mengabarkan tentang sedikit perbedaan. Bahwa terkadang, cinta juga mampu berselisih dan tak sejalan.

Kemudian sang putri mencoba mengingat-ingat tentang semua pagi yang alpa ia syukuri karena masih bisa terbangun dan tersenyum untuk cintanya. Semua siang yang ia habiskan dengan merindukannya, juga malam-malam yang ia tutup dengan doa memohon kebahagiaan untuknya. Lalu seperti air mengalir, cinta pun akan mengalir menuju muaranya: keikhlasan.

(( Boleh saja kau mengingkari tiap kesedihan, kesakitan, juga letih yang kau rasakan dan mengatakan, "Percayalah, Aku akan baik-baik saja ..." Namun ingatlah, alam pun terkadang mendengar desahanmu. Dan Tuhan terus memelukmu erat meski tanpa kau sadari. )) 

Photobucket






Dedicated to my closefriends; may Allah always giving u happiness, 
healing u from the pain, 
and give you the most beautiful love ... ❤ ❤ ❤ 
Happy New Year, my friends ... "May our dream come true on 2012 ..."

Read More - There's Never a Perfect Life for a Princess (╥﹏╥)

❤ S P E K T R U M (( I wanna play with shadows )) ❤

Sabtu, 10 Desember 2011
Pada lautan air mata kita belajar,
untuk kepedihan yang mendidik kita agar tak gentar.........
Bertahan menjadi akar, dan bersemi pada keteguhan yang mekar.
Begitulah sejarah menuntut kita untuk melangkah kembali,
meniti tangga hari, berdiri, dan bangkit untuk kemudian berlari...

Kau tahu jiwa tentang yang bernyanyi? Ia selalu bermesraan di sepertiga malam. Ia terkadang berbisik. Terkadang merintih. Terkadang merangkai kata. Hanya untuk memenuhi hasrat cintanya. Pada apa yang digariskan Tuhannya.  
Kau tahu tentang jiwa yang menari? Ia selalu terdiam pada siang yang terik. Mengusap peluh perlahan, dan berjanji untuk mimpi yang terbaik. Hanya untuk menyeka air mata saudaranya yang tercabik, atau sekedar memenuhi hasrat rindunya. Pada apa yang diisyaratkan Tuhannya.

#Menulis tentang Dinda...

          Gadis manis dengan dua lesung pipit bersemi di pipi kanan dan kirinya. Tubuhnya kurus, matanya bersinar jeli, dan suaranya melengking tinggi di antara kawan-kawanya. Seolah tak pernah ada kesedihan yang tersirat di wajah mentarinya. Gadis yang ramah di mataku. Selalu ada sapaan hangat yang keluar dari mulutnya di saat kita bertemu. Masih kuingat, bagaimana wajahnya berbinar penuh harapan ketika dengan malu-malu ia meminta ijin untuk mengikuti kelasku. Masih teraba dengan jelas, bagaimana usahanya untuk membuatku tampak senang karena ia senantiasa mengikuti instruksiku dengan baik. Pun masih terekam dalam ingatan, betapa aku tampak sangat terkejut melihat kehadirannya diacuhkan oleh kawan sepermainannya.
          Malam itu ia menangis sesenggukan di hadapanku. Jilbab putihnya basah oleh air mata yang tampak begitu memerihkan. Tubuh mungilnya terguncang hebat. Wajahnya tampak acak-acakan dengan anak rambut yang berlarian keluar dari balik kerudungnya. Ahh..andai kau tau, Dinda. Aku sungguh tak pernah ingin mendengar tangis itu di balik keceriaanmu. Andai mampu kuputar waktu sesuai mauku, tentu takkan pernah kubiarkan kau menangis sendirian di atas kasurmu karena nilaimu yang merosot tajam di sekolah. Andai aku mampu menggandakan diriku satu setengah tahun yang lalu, dan berada di sini sebagai konselingmu....tentu takkan pernah kubiarkan mereka menyakitimu, menuduhmu, dan melukaimu sedalam itu. Bahkan andai sekarang aku menjadi jenius dan mampu menciptakan ruang waktu, tentu akan kuhapuskan memori tentang sayatan yang kini telah berkarat di hatimu.
"Aku memang udah ga punya orang tua, Ustadzah. Tapi aku masih ingat, ketika aku kecil...Ibu selalu mengajarkanku kejujuran dalam segala hal. Jadi ga mungkin aku yang mencuri uang teman-teman." Katamu payah, dalam sesenggukan yang tak kunjung reda.
"Dinda, coba dengar saya. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan. Selama mentari masih bersinar, dan bumi masih berputar..tentu akan ada harapan bagi setiap perubahan. Ketika kamu merasa seluruh dunia menentangmu dan memandangmu sebelah mata, maka buktikan..bahwa kau layak dipandang dengan kedua belah mata mereka." Kataku perlahan, kalut.
"Lalu siapa yang akan mempercayaiku? Ketika semua orang telah memikirkan hal yang sama dan menghakimiku dengan pikiran mereka masing-masing?" Keraguan  terucap jelas dari mulutmu.
"Aku. Jika di antara sekian ratus kawanmu, hanya aku yang akan mempercayaimu dengan hatiku dan bukan karena aku konselingmu..maka apakah kau akan mengecewakanku kelak?"
Hening...dan isak tangis itu perlahan menghilang. Kepercayaan adalah sesuatu yang dilahirkan, dan bukan dibuat berdasarkan kebutuhan.

#Melukis tentang Atra...

          Pandangan matanya lurus menatap langit-langit kelas, dinding-dinding ruang, dan sudut-sudut kertas yang berserakan. Ada sebuah kepolosan di sana. Aku tak pernah benar-benar mengerti. Ada sepercik harapan di sana. Pun aku masih tak mengerti. Digumamkannya huruf-huruf yang bertebaran pada lembaran buku di hadapannya. Sama sepertinya yang tampak bimbang, aku pun tengah kalut dan bertahan dengan kecamuk pikiranku. Huruf itu makin tak beraturan dibuatnya. Terlipat-lipat. Terbolak-balik. Tercabik-cabik. Dan akhirnya terbaca dengan liar. 
          Diseleksia. Retardasi mental. Adakah kata lain yang lebih nyaman untuk membahasakan kisah ini bagi seorang Atra? Tentang Atra dan dunianya. Mungkin aku hanyalah bagian terkecil dari kebahagiaannya. Bahkan mungkin ia sangat membenci huruf-huruf yang kerap kali kusodorkan, begitu pula dengan kehadiranku pada tiap imaginya. Setidaknya itulah yang selalu kupikirkan tiap kali bertatapan dengan bening telaga di wajahnya. Hingga suatu hari, sebuah pelukan hangat mencoba membahasakan kerinduan. Tubuh mungilnya hinggap dan menguatkanku. Membuatku kembali yakin, bahwa aku akan mampu merubahnya menjadi "seseorang" di masa yang akan datang dengan segala keunikan yang ia punya. 

#Merangkai tentang "kita"...  

          Cukup. Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang siapapun dan apapun. Aku hanya ingin kembali menulis. Itu saja. Ketika hujan ini datang, aku hanya ingin menghadirkan distorsi yang mmbentuk bahasa manis dalam aksara kata. Mulanya aku mencoba menulis tentangmu. Menjadikanmu sebagai poros ide pada setiap bait yang kurangkai. Namun rumit. Sulit. Menghimpit. Meski pada kenyataannya kau pernah mengijinkanku menulis untukmu, tapi tetap saja aku tak mampu. Mungkin itulah sekian dari ketidak sempurnanaanku dalam dimensi kita. Terkadang, itu pula yang membuatku ingin berkata pada Tuhan untuk menghapus sedikit saja jarak yang tergores. Atau setidaknya, memberiku kekuatan penuh untuk tetap berlari pada masa depan yang sama denganmu. Karena sejujurnya aku enggan menjadi utara dan membiarkanmu menjadi selatan. Lalu kita sama-sama kebingungan, menentukan arah dan titik untuk bertemu.
          Menurutmu aku sedang menulis apa? Menulis tentang hidupku yang berupa hamparan kertas, atau menulis tentang kamu yang menjadi gunting dalam tiap gulunganku? Jujur saja, terkadang aku ingin menjadi bagian dalam salah satu kisah rekaanmu. Karena kurasa, hidup ini sudah terlanjur rumit. Dan aku bosan menjadi satu bagian saja dalam hari-harimu. Mungkin hanya siang, tapi tidak menjadi malam. Atau mungkin hanya malam, dan tidak menjadi siang.

Photobucket
         
          :: Aku memandang senja dari balik jendela kamar. Langit berwarna keemasan, bersenyawa dengan ratusan warna yang membias muncrat memenuhi mega. Senja kali ini muram,seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Aku tidak galau. Tidak juga rindu. Terlebih lagi gerimis. Entah kenapa akhir-akhir ini aku hanya ingin menulis tentang banyak hal yang berbeda, berserak, untuk kemudian menyatukannya meski aku sendiri tak mengerti. Rasanya melayang. Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting pepohonan, bubungan rumah, hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun cemas. Seperti gerimis yang mampu membawa pelangi di senja hari, aku ingin sekuat itu.
          Hidup ini mungkin seperti lembaran novel. Ada bagian yang ingin kucatat ulang untuk kemudian kuhapalkan baris demi barisnya. Adapula bagian yang tak ingin kusentuh sama sekali. Tiap-tiap bagian adalah sebuah karya. Tentunya bukan mahakarya yang tak pernah ingin kau selesaikan bukan? Aku ingin mengukir jalanku. Ada banyak hal yang menunggu untuk kau renungi, kau hadapi, juga kau raba kembali. Membaca ulang tentang Dinda, Atra, ataupun sang "inspirasi" yang takkan pernah kutemui lagi di kemudian hari. Begitu pula dengan kisahmu hari ini. Hargailah sang waktu, dan cintailah apa yang ada di hadapanmu meski kau tak ingin. ::
“Karena kamu suka hujan, menjadilah seperti ia..” Katamu.



Pernahkah kau menulis tanpa rasa? Maka beginilah (mungkin) yang saya maksud...hambar..tanpa saya pun mengerti apa yang saya tulis.. -____- *penat*
Read More - ❤ S P E K T R U M (( I wanna play with shadows )) ❤

All We Need is ...... L O V E ........

Kamis, 13 Oktober 2011
"Pernah kah  kau berpikir, bahwa dunia tempatmu berpijak teramat luas...
hingga sejenak kau terlupa, bahwa ada begitu banyak sudut di sekelilingmu....
....................................mengitari tiap langkahmu.......................................
dan setelah begitu jauh kau melangkah dan berlari, kau tersadar...
tentang bisikan sudut yang terus memperhatikanmu, menyayangimu dalam tiap desahan, dan menantikan tawamu meski perlahan....
Lihatlah...!! Dia masih di sana, hingga kau tak mampu lagi percaya..."

Yogyakarta, 18 Juni 2011
Assalamu'alaikum, Kakak...
Selamat pagi....semoga harimu indah, Kakakku. Kuatkan langkahmu ya, usap air matamu, dan berlarilah ke arah yang jauh untuk tiap tawamu. 
Kak...bolehkah aku sedikit bercerita tentangmu pagi ini? Sedikit kisah tentangmu, dan tentang kita. Sejenak terdiam...untuk mengingat arti kehadiran pada tiap-tiap partikel yang berputar dalam imagi kita. Boleh ya?

Ada jarak belasan tahun terbentang antara kita. Ada rentang masa begitu jauh antara dunia kita. Ada perbedaan yang tak mampu kita tutupi dalam kebersamaan ini. Namun tentu saja, tak pernah ada protes yang cukup berarti tentang semua itu. Karena aku dan kamu sama-sama tahu dan mengerti, bahwa itu lah takdir kita.

Di saat kau mulai sibuk berlari dengan seragam putih abu-abu kebangganmu dan meneriakkan kedewasaanmu, aku masih di sini, Kak....menatapmu dalam diam dan kekagumanku, seraya menggumam dalam hati, bahwa suatu saat aku pun ingin sepertimu.

Di saat ayah dan bunda menciummu penuh haru ketika kau kembali mendapat peringkat pertama di bangku SMU tingkat akhir, aku pun masih di sini menatapmu malu-malu...dan terus berharap, bahwa kelak peluk dan cium itu juga menjadi milikku...

Lalu kau pun menginjak masa-masa kuliah. Siapa yang tak mengenalmu di kampus itu? Seorang gadis belia dengan segudang prestasi dan keceriaan yang seolah tanpa terbatas. Sementara kau di sana mencoba berjuang untuk gelar sarjanamu, aku masih di sini dan tertatih memasuki bangku SD kelas satu.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, jarak kita begitu jauh Kak....hingga kadang, kita terlalu letih untuk meraba dan menyulam tiap jeda yang tercipta.
Pagi itu kau begitu cantik di mataku, Kak. Seraut wajah mentari berbalut kerudung jingga, dengan sebuah terusan senada. Kau tautkan wajahmu di depan kaca kamar kita. Kau coba serasikan warna, rapikan ransel, juga poleskan sedikit warna di wajah ceriamu. Kau tau...aku begitu menyayangi dan mengagumimu...pagi ini...pagi yang lalu...juga pagi-pagi berikutnya. 

Sementara kau bersenandung riang di sana, aku pun tengah bersiap untuk memasuki hari pertamaku di bangku SD kelas dua. Bunda masih membantuku berkemas, sementara kau terlihat begitu mandiri dan membuatku sedikit iri. Ini hari pertamamu masuk kerja, Kak.... Dan di saat yang sama, ada begitu banyak sarjana yang lelah berputar-putar ke sana kemari dengan secarik kertas ijazah yang tak jua dilirik oleh lembaga bergengsi di negri kita Tapi kau justru mendapat panggilan kerja dengan begitu mudahnya hingga kau harus memilih yang terbaik di antara mereka. Padahal, kau masih harus menyelesaikan semester 8mu dan juga skripsi yang akan menjadikanmu seorang sarjana. Ahh...sekali lagi..aku sungguh ingin sepertimu, Kak...

Siang ini aku pulang cepat, Kak....karena di sekolahku akan ada ada rapat komite. Kau tau? Betapa senangnya aku ketika  mendapatimu tengah duduk bersantai di ruang tengah. Aku merindukanmu. Begitu sulit kuingat, sejak kapan kita tak lagi tertawa bersama. Kita tak lagi bermain hujan, atau pun saling menebak kata seperti yang dulu sering kita lakukan di waktu senggang.

Beberapa detik dalam keheningan, dan aku hanya mampu mendesah kecewa. Sebuah ketukan halus terdengar di pintu rumah kita. Tak lama berselang, kau kembali tertawa ceria. Ada mereka di sisi kanan dan kirimu. Ada kebahagiaan yang tak pernah mampu kuraba tentangmu. Ada kisah yang tak pernah mampu kuterka tentang hidupmu. Mungkin bagimu, hanya merekalah yang akan mengerti tentang letupanmu di masa dewasa. Mungkin dalam benakmu, hanya merekalah yang mampu memahami luka liku kisah cinta dalam hidupmu. Karena sekali lagi....terlalu jauh jarak rentang terbentang antara kita berdua, Kak. Kau dan kawan-kawan kampusmu, kau dan kawan-kawan kantormu, kau dan sahabat-sahabat mayamu. Ahh...jarak ini terkadang menyisihkanku, Kak....

Kemudian aku kembali ke dalam duniaku. Dunia di mana aku harus mendengar begitu banyak suara tentang kesuksesanmu. Dunia di mana aku tak mampu mengenyahkan jurang menganga antara kita berdua. Aku merindukanmu, Kak....

Maka pagi ini aku ingin menulis sedikit tentangmu. Kak, aku sangat menyayangimu. Ada ribuan mil jarak terbentang dalam rekaman memori kita. Ada ratusan ide berjejalan meletup tak beraturan dalam dimensi ruang kita. Namun kau tau, kak? Aku tak pernah peduli...!! Karena aku hanya membutuhkan sedikit waktumu di antara sekian rutinitas yang ada dalam agendamu. Sedikit saja. Mungkin kita bisa bermain halma bersama, menulis bersama, menyanyi bersama, atau...apa saja yang kau mau, Kak....
Asalkan itu denganmu....maka aku akan bahagia.
Karena terkadang..buka keramaian yang kita inginkan,
melainkan secuil hening, yang hadir bersama sebuah pelukan hangat....
Mungkin kau akan marah ketika membaca tulisanku tentangmu, namun aku hanya ingin kau tau sesuatu. Kelak, saat aku tlah dewasa....aku tentu akan menjadi sepertimu...dan aku takut, jika kita saling melupakan tentang sebuah sudut, di mana kita pernah mampu saling menatap dan sejenak membisu,,,untuk kemudian berbisik perlahan...bahwa aku dan kamu mungkin saja pertautan mentari dan senja. Di mana pada sebuah titik,,,kita lebur dan berjalan searah tanpa menoleh ke belakang untuk menatap bumi yang hampir lumat oleh guratan masa lalu. Maka sekarang aku akan menulis tentangmu, dan berbisik di telingamu dalam tidurmu yang lelap... 
"Kak, aku mencintaimu. Dan tentu saja, merindukan tiap celoteh tentangmu....dan tentang KITA..."

Salam cinta selalu, adikmu...
di antara ribuan jarak yang angkuh membatasi pertautan kita...

"Note ini saya tulis, karena saya terinspirasi oleh adik saya... di mana pada suatu senja, saya pernah mendengar celotehnya samar melalui pintu kamar saya, "Mi, mbak Nick ke mana sih..?? Kok sekarang sering menghilang gitu aja ya...kadang ada, eh..dan tiba-tiba udah pergi lagi...."
Ringan ya....tapi cobalah kau rasakan sebuah hempasan keras...saat ternyata, ada seseorang di sebuah sudut yg terus memperhatikanmu....dan mencoba meraih waktu tentang tawamu meski tanpa kau sadari...(dalam diam)..."     <<Eh, tapi yang ini fiktif lho yaaaaa.... :P>>
Dedicated to : All my friends...in my circle of friendship..Do u know? That u're like a sibling in my life..
"Cobalah sejenak kau pejamkan matamu, rebahlah dari aktivitas lelahmu...dan pandanglah    sekelilingmu. Akan kau temukan berjuta warna menjadi bayangmu, memandangmu dari tiap penjuru,,,dan tentu saja menyayangimu. Maka pastikan, bahwa kau akan membalas C I N T A mereka..!!"  ^_^








                                                                                                                                    








Read More - All We Need is ...... L O V E ........

Solitude.... :: Hujan dan Bintang :: ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ

Senin, 12 September 2011
Life is beautiful
Aku sedang ingin menulis. Aku ingin menulis tentang kehidupan pribadiku. Entah apa yang akan kalian rasakan setelah membaca kisahku ini. Tapi aku berharap...kalian iri padaku ya...hahahaha...#stres
"Tahun pun turun membuka sayapnya,
ke luas jauh benua-benua
Laut membias : warna biru langit tua
Zaman menderas : manusia tetap setia..." @GM
Pernahkah kau lihat bagaimana mentari berbicara tentang lelah pada sinarnya? Pernahkah kau lihat, bagaimana deburan ombak meneriakkan keluh..menghembuskan kesah pada tiap-tiap tepian pantai yang pernah ia jumpa? Atau,,,pernahkah kau dengar bisikan perlahan dari gumpalan awan hitam, untuk rinai hujan yang selalu membuatnya tertahan? Aku tersentak dalam diam...bergeming..dan mengaitkan jemari pada kekalutan panjang.
Mars  :  Kenapa kau meminangku, mau menikahiku, dan menjadikanku sebagai bagian dari hidupmu??  
Venus : Sebab tanpamu, takkan pernah ada pernikahan bagiku... 
                                            .......(hening)........
Bangku panjang yang kududuki terasa begitu dingin. Desiran angin membuatku mengatupkan rahang lebih erat. Kucoba memberikan aliran hangat pada ujung jemari yang terasa membeku, juga sebuah energi baru pada dinding-dinding syal yang mulai rapuh dan mengembun demi menahan serpihan gunung es yang berdiri tegak tak jauh dari tempatku termangu. Perlu sejuta ketegaran untuk membuatku tetap bertahan dan berpijak pada ruang yang tak terhempas.
 
Mataku beralih pada sebuah sudut temaram, di mana siluet dua sosok usia senja tampak berpadu pada waktu yang telah berpaling dan membiarkan mereka kusam dalam putaran zaman. Seolah tak peduli pada gilasan masa, mereka saling melindungi dari dingin dan berbagi kehangatan. Entah sudah berapa generasi telah mereka lewati dengan mengabaikan kesedihan dan menyuarakan tawa berdua saja. Aku beringsut dari tempatku beradu dengan nurani. Menjauh perlahan. Namun aku tahu pasti, bahwa harapanku masih tergantung di sana.

Seperti seseorang di titian masa yang tengah kehilangan arah, aku kembali menelusuri jalan itu dengan perasaan tak menentu. Jalan "mengejar matahari", begitu katamu dulu. Dengan sebuah kertas yang kau lambaikan perlahan di hadapanku, kau mencoba menguraikan tentang arti kesetiaan dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahmu. Katamu, persahabatan adalah sebuah ikatan untuk kesetiaan cinta yang tak mungkin usai. Benarkah? Ahh...aku sampai lelah berpikir...mengapa dulu aku begitu mempercaimu, bahkan hingga sekarang...aku tak berhenti untuk terus mengagumimu.

Masih kuingat bagaimana senja itu kau berlari menghampiriku di bawah sengatan mentari yang mulai redup menyilaukan. Hanya demi sebuah pena dan sebuah kertas lusuh yang ingin kau tunjukkan, peluh harus membanjiri kemeja kebanggaanmu dan nafas tersengal kepayahan akibat berlari membuatku tertegun dalam diam. 
"Untuk apa?" Kataku acuh meski mataku hampir meloncat ingin tahu.  
"Untuk menuliskan semua mimpi-mimpimu." Katamu dengan mata berbinar-binar (satu hal yang selalu aku suka darimu sejak dulu). 
"Hanya itu?" Ucapku tak percaya. "Aku bahkan mempunyai puluhan buku berisi cita dan mimpiku." Sahutku enggan. 
"Ayolah...tuliskan saja 5 mimpimu tentangku, tentangmu, dan tentang kita."Enggan...kuayunkan penaku di atas kertas lusuh menyebalkan senja itu. "Sudah?"
"Ya..."
"Sekarang lihat aku."Perlahan tapi pasti...ia menghapus seluaruh tulisanku senja itu. Menjadikan kertas lusuh itu makin lusuh, dengan bekas goretan pena di sana-sini. Aku kesal. Tapi kau bilang, 
"Begitulah kehidupan, Tuhan telah memberikanmu pena untuk menulis semua kisah, cita, juga kesetiaan yang kita inginkan. Tapi kau tau...Tuhan juga telah menyimpan penghapus untuk setiap goresan penamu."
Huufftt...percakapan itu sudah lama sekali ya, kawan. Aku bahkan mulai lupa bagaimana binar-binar itu kemudian menjadi sebuah kejora yang membuatku makin mengagumimu. Tanpa kusadari, perlahan senyumku mengembang pada tiap kenangan dan jejak yang pernah menjadi hari tak terlupakan bagi seorang gadis sepertiku. 

Pluk! Sebuah jaket hangat berwarna violet tiba-tiba menghampiri tubuhku yang mulai gemetar kedinginan oleh fajar yang menggigit. 
"Masuklah sayang..sepertinya salju akan segera turun di kota ini." Ucapmu sambil tersenyum hangat. Ahh..sebuah senyuman yang pernah kutunggu selama hampir 3 tahun itu kini menjelma nyata di hadapanku. 
"Apakah kau tengah menyesali karena telah menjaga kesetiaan sebuah bintang untuk turunnya hujan?"  
Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, "Kau tau...semenjak mengenalmu..aku bahkan mulai lupa, bahwa pada hakikatnya hujan dan bintang saling meniadai."
Lalu kami pun beranjak perlahan meninggalkan jejak-jejak yang tak terkikis pada sebuah fajar yang masih temaram.  
Sebuah apartemen, dengan hamparan tulip dan salju...
Amsterdam, 14 September 2012


Bagaimana? Kalian sudah iri belum...dengan keromantisan saya dan belahan jiwa saya di ujung sana? #siapa coba?? Halah...hahahaha...mengkhayal banget deehh... 

Hohohooo....maaf...cerita yang baru saja anda baca ini hanyalah fiktif belaka. Apabila ada kesalahan dalam penulisan, mohon dimaafkan...karena penulis belum pernah menginjakkan kakinya di kota bersalju, namun berharap akan mampu mewujudkannya. Amin.. Oiya, kisah ini saya persembahkan spesial untuk sahabat-sahabat saya di dunia maya ; Phipi, Putri, dan Zii...semoga penantian kalian segera berakhir ya....hahahaha.... Karena akan selalu ada simpul yang indah untuk setiap kesabaran dalam sebuah keimanan.... Juga untuk mimpi-mimpi saya yang tak lagi sabar menyentuh butiran salju dan menyimpan keceriaan warna tulip dalam kornea mata saya...(˘ʃƪ˘) Special thanks to Life is beautiful...

Read More - Solitude.... :: Hujan dan Bintang :: ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ